Senin, 03 Januari 2011

TERLENAH



Terlalu ku bersandar pada email_emailmu
Yang melambungkan rasa 
Membiarkan mimpi
Mengalir melampui kekuatan hati
Juga batas angan
Hingga tentram menambal keinginan hati
Menemani waktu ku
Melampaui  kekuatan hidup
Hingga badai itu tak sadar menghempasku
Kau pergi sebelum redah riangnya hati
Aihhh kemanakah
Langkah mesti ku bawah?
Agar pasti tumpahkan rindu

SADAR KU



Jerit sesal menggemah
Bergemuru riang diantara dinding_dinding hati
Riuhnya memekakan telinga
Menyakitkan sadar, melukai yang tak siap
Bahkan dalam keramaian sekalipun
Kelemahan itu terus mengejar waktu
Hingga menyuburkan uban di kepala
Hai jiwa sadarlah
Bom itu akan menghancurkanmu
Menghanguskan asa tinggalkan sesal menghujam

NELANGSA HATI



Jiwa ku merontak
Merobek sepi di antara luka
Riang dalam ingatan
Menyakitkan bagi yang sadar
Melukai bagi yang tak siap
Kau memaksaku menahan perih
Membuatku menyerah pada setiap prasangkamu
Kau lumuri aku dengan luka demi luka
Aku terjerat serapahmu
Ketidakberdayaan menuntunku berpaling
Perlahan tapi pasti aku menutup rasa padamu

DIMANAKAH PERI KECIL KU


selalu ku bertanya
pada setiap orang
pada setiap waktu
dimanakah si mata bening
yang mampu mencuri hatiku
hingga mengalirkan puisi_puisi jiwa dalam kehidupan ku
menghantarkan rindu menyimpan ribuan asa
lahirkan rasa yang tak pernah pamit
dalam cinta yang mengakar
semoga takdir bergerak dan merapatkan keinginan hati
sebab gugusan kenangan semakin menjeratku dalam gelisah
oleh rasa yang tak bisa ditakluk

Minggu, 02 Januari 2011

BIDADARI DALAM MIMPI


 Layaknya bayang menawan tutur angin
Engkau datang menanam mimpi
dalam teduh tatap bermata embun
yang selalu menari bersama halimun
saat lelap serangga menggengam mimpi
kaupun terus menari hiasi goresan hari
menopang keluh teduh pelangi
sentuhi lembut riak hati
gemulai penuhi takaran waktu
dalam pekatnya cakrawala hati
hingga maut tertaut diantara jemari rasa
beku menanam tilas bayang
saat pintu takdir di tutup Tuhan
membuatku hanya mampu melukis wajahmu
dalam bayang awan yang melumpuhkan asa
kerati nadiku
akhirnya ambigu