Selasa, 11 Oktober 2011

SENJA DAN SUARA HATI


senja dalam hembusan bayu
memberi riak pada samudera hatimu
untuk berulang kembali mengecup bibir kenangan
seperti setianya waktu meluruhkan helai kalender
seperti mata air yang mengaliri kerinduan
selalu berakhir pada muara yang sama
memahat kenangan mengunci pertemuan
agar debar dadaku tak pernah membatu
dalam menterjemahkan gelora kerinduan
terus ku jaga hangat kecupanmu
agar cinta ini tetap terjaga
dalam malammalam keresahan
saat kamu menanamkan bijibiji rindu

PENJARA JIWA


tatapan kenangan pada jemari waktu
selalu memberikan rasa yang merambat
saat kecupan mendekat serupa kuluman
lebih manis dari madu hingga kita kehilangan logika
sementara jarak ini semakin teraniaya
dalam interval waktu yang menjerat
tak ada lagi waktu mengepak kenangan
atau sekedar membuka simpul silaturahmi
ketika kehadiran terpenjara jarak
dalam mengemas rasa yang yatimpiatu
haruskah ku penjarakan hatimu
agar cemburu tak memenuhi ruang gelisah
lalu membiarkanmu mendekam
dalam pelukan lengan malam
dimana kesetiaan kita ditempah masa
saat pagi mendapati wajah kita kelelahan
karena terlalu sering bercerita tentang luka dan kehilangan 
saat hening malam meminta penjelasan

haruskah aku mengutuk hati
memahat ingatan menjadi prasasti
agar resah tak lagi membakar hati
dan memenjarakan jiwa

Minggu, 09 Oktober 2011

TITIPAN ILLAHI I


kita tak pernah tahu,
sebab tak ada yang kekal dalam bentuk,
juga purna dalam warna
karena hidup itu sendiri memang berlaksa warna
dimana kita patut mengisinya dengan amal dan ibadah
hingga saat menunggu waktu
menanti takdir dengan merayu doa,
menukari hidup dengan menanak bekal menunggu ajal
karena hidup ini hanya titipan

CINTA YANG TAK SEMPAT TERUNGKAP


mengapa aku masih saja diam membisu
saat kamu isyaratkan cinta
yang kau titipkan pada embun pagi
hingga kembang liar mekar mewangi
sisakan aroma kala kumbang mengambil sarinya

mengapa aku menggigil diam dalam hening senja
saat kau ungkapkan debar cintamu
yang kau titipkan pada ombak yang tak henti melumat bibir pantai
sisakan buih buih kenangan saat kehangatan itu mulai surut

aku juga masih saja tak sanggup membalas emailemail cintamu
saat kau tuangkan dalam jeritanjeritan rindumu
yang tak pernah rampung di kisahkan para penyair
hingga kering airmata mereka jadikan tinta untuk menulis
sisakan sesal saat rindu itu mulai menjadi beku

cukupkah bagimu,……..
mengetahui bahwa aku pernah mengisyaratkan cinta padamu:
saat  embun masih mengunci lelap tidurmu
sebelum surut gemuruh ombak mencium bibir pantai
cukupkah bagimu,……
mengetahui bahwa aku pernah menulis sebait puisi cinta:
saat jemari ini belum lelah menulis rasa yang sama
dalam tangis yang telah kering untuk dijadikan tinta
bahwa aku sesungguhnya lebih dahulu begitu mencintaimu
tapi tak sempat ku ungkapkan.

ORNAMEN KEMATIAN


aku masih disini,
mengurai kisah kesepian
yang tak kunjung jedah
masih terus ku eja dalam doa untuk mu
sebab tak bisa kuhentikan lajunya rindu
saat ini cinta ku telah beku
tarian pennaku tak lagi bernyawa
untuk menorehkan sisi sepi hatiku
agar kita faham maknanya cinta

telah ku rangkum catatanku tapi enggan ku tutup
walau ini adalah malam terakhirku
tidur diatas kegelisahan hati yang panjang
dan kurasa makian kesumat mengental dibibirmu
menjemput rasa yang telah usai menjadi abu
perpisahan itulah jalan terbaik katamu

alangkah sakitnya, lahirkan gelisah ke ruang hati
meski suara_suara kerinduan meruncing
menjelma cahaya cinta yang membujuk hati
tapi kenangan itu terus berlari, tak terkejar
padatkan malam dengan doa dan embun
sesungguhnya aku telah mati dalam hidup