ROTE NDAO MEMILIH.
Dalam sistem pemilu dapat diambil
secara garis besar sistemnya yaitu sistem distrik dan proporsional. Sistem yang
mendorong pada pola komunikasi politik yang lebih efektif, real dan kongkrit. Komunikasi
politik yang diperlukan dalam kampanye politik sangat tergantung pada sistem kampanye.
Demikian pula dengan kemampuan dan kredibilitas partai akan menjadi prasyarat dalam
pembentukan citra politik, membina pendapat umum, mendorong partisipasi politik
serta memenangkan pemilu. Untuk mencapai target yang ditentukan maka dalam
menjalin komunikasi politik sangat terpola pada sistem lama yang lebih dominan.
Yaitu pola rapat umum, atau lebih mentereng disebut kampanye umum. Pola perubahan
yang fenomenal adalah kampanye dialogis. Berikut ini perbandingan antara rapat/kampanye
umum dan rapat/kampanye dialogis.
A. Kampanye
Umum.
Ø
Kelebihan
Dapat mengumpulkan dan
memobilisasi massa yang banyak.
Bisa melalukan Show of force
(unjuk kekuatan)
Lebih menonjolkan sisi
bonafiditias daripada real visi dan misinya
Lebih banyak menonjolkan kekayaan
daripada otak dan kemampuan memimpinnya
pemilih lebih banyak terlibat
karena lebih bersifat transaksional material
(dapat baju, atribut, uang makan,
uang minyak, uang saku dan dapat menonton pertunjukan dangdutan, asiknya
ramerame)
Ø
kekurangan
tidak terpenuhinya komunikasi
timbal balik antara pemilih dan yang dipilih, sehingga tidak terciptanya misi
yang kongkrit dan real dari visi dan misinya
lebih menonjolkan bonafiditas
calon daripada real visi misinya
cenderung berupa sound bite dan
kampanye negatif karena harus menyampaikan pesan yang efektif tetapi dengan waktu
yang sedikit karena lebih banyak acara hiburannya.
Tidak terciptanya komunikasi yang
efektif antara pemilih dan yang dipilih
Tidak bisa dipertanggungjawabkan
visi misinya karena lebih bersifat universal
Kapitalisasi politik atau
penggunaan uang dalam jumlah besar untuk kampanye baik untuk memobilisasi masa,
menyewa artis, membayar masa, membeli atribut yang banyak, membayar makan
peserta, uang saku peserta intinya lebih bersifat transaksional material
Reduksi kepentingan politik
menjadi kompetisi pencitraan diri citra lewat show of force.
lebih bersifat hurahura dan
memakan banyak biaya
dapat menimbulkan tindakan anarkis
dan menciptakan kondisi yang tidak kondusif
lebih banyak terjadi
transaksitransaksi material yang lebih bersifat penyogokan
apat menimbulkan kesemrawutan
lalulintas
B. Kampanye
dialogis
Ø
Kekurangan
Tidak dapat mengumpulkan dan
memobilisasi massa yang banyak.
Tidak bisa bisa melakukan Show of
force (unjuk kekuatan)
Ø
Kelebihan
lebih mendorong terjadinya
pendidikan politik bagi para pemilih dan
juga untuk menbangun komitmen para kandidat terhadap persoalanpersoalan yang
dihadapi oleh rakyat. Sebab rakyat lebih banyak berkomunikasi, menuangkan
berbagai keluhkesah, mengajukan berbagai kritikan, dapat mengikat kontrak kerja
dengan kandidiat dan secara terbuka bisa manyalurkan aspirasi juga inspirasinya
dengan baik. Intinya terjadi komunikasi timbal balik yang efektif dan dapat memfasilitasi
terjadinya perubahan yang terformulasikan dalam setiap pertemuan.
Lebih hemat dalam biaya
operasional karena tidak terjadi transaksi material yang berlebihan.
Mampu memfasilitasi terjadinya
komunikasi timbal balik yang lebih efektif
Dapat menjembatani antara pemilih
dan calon yang dipilih secara emosional dan lebih komunikatif
Tidak terjadi banyak pengeluaran
yang lebih bersifat hurahura dan transaksi materi
Reduksi kepentingan politik lebih
dapat dipertanggungjawabkan karena tidak bersifat kompetisi melainkan bersifat
melayani
Mampu menekan biaya yang sangat
besar
Lebih manusiawi karena mampu menciptakan
kebersamaan, kondusif dan tidak menimbulkan kesemrawutan lalulintas.
Pamer kekuatan dan kekayaan memang sangat diperlukan untuk menjaring masa
yang abuabu dan galau dalam dunia politik. Satu sisi meskipun memenangkan
kampanye bukan berarti memenangkan pemilukada (win the war not win the battle) sebab
Show of force, show of money pada masa kampanye calon-calon kandidat pun tak
segan-segan untuk menghambur-hamburkan uang. Meskipun tidak ada kaitan yang
esensial antara kemampuan memimpin dengan penghamburan uang namun calon
kandidat masih terus “menebar garam di lautan”. Hal ini dilakukan baik dalam
hal penggalangan masa untuk ikut kampanye, ataupun untuk hal-hal lainnya. Sehingga
sangatlah tidak bijaksananya jika calon-calon kandidat sedikit bersikap
prihatin dengan kondisi masyarakat saat ini yang sedang mengalami kesulitan
dengan naiknya beberapa harga sembako. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi
fenomena sosial yang terlalu ironis, di satu sisi berhamburan uang sedangkan di
sisi lain kesulitan mengumpulkan uang. Dan satu lagi, jangan sampai setelah
terpilih nantinya masing-masing calon kandidat memakai filosofi “bahwa segala
sesuatu yang terserak suatu saat harus terkumpul lagi”.
Akan lebih logis jika kita memilih kandidat yang memiliki program kerja
yang “masuk akal” yang bisa di ukur baik hasil
maupun target pencapaiannya dan seberapa besar keberpihakkannya pada masyarakat
dengan menyiapkan visi dan misinya secara baik, real dan kongkrit, tidak mulukmuluk
dan dapat dipertanggungjawabkan.
Para tuantuan dan nyonyanyonya Rote Ndao, tentukan pilihan mu denganhati
nurani yang pasti. Sebab pilihan mu sangat menentukan sebuah langkah perubahan
ke depan menujuh rote ndao yang makmur dan sejahtera