Senin, 22 Oktober 2012

HUJAN DAN DIRIMU




wajah senja menepikan senyum saat deras hujan sore ini
lampulampu taman tergantung gelisah
sebab pintupintu kerinduan berderit tertutup pada sunyi
hening paham benar seberapa rindu yang terkuras
ketika cuaca menitipkan retas hujan saat rindu datang bertandang

malamku berpeluk resah melebihi hujan saat badai
dimana rinduku padamu, kian menderas
hingga sampai pada titik kulminasi
titik dimana aku hanya ingin memelukmu tanpa ingin melepaskan
haruskah aku bersulang untuk secangkir bayangmu dan seseduh kenang kita

sengaja ku teriakan namamu
dibawah risau angin dan deras guyuran hujan
agar hanya kamu dan hujan yang bisa mendengar
tentang teriakan hatiku yang menderas rindu
jika itu bayangmu di balik buram kaca jendela
tempat dimana kamu selalu memandangku
mengartikan tangis, tawa juga isyarat cintaku

ku mohon janganlah beranjak
agar aku merasah kamu tetap menatapku
meski sebenarnya kamu sedang terlelap dan tak memimpikan aku
biar aku disini kuat dan tetap tersenyum   


 

Tidak ada komentar: