kata hati tak kan terkebiri Apabila kejujuran menjadi panglima,sikap terbuka sebagai ksatria dan kerelaan menerima kritik sebagai Laskar utama apakah itu ada di diri kita?
Rabu, 25 September 2013
Senin, 09 September 2013
TETAP MENUNGGU MU
dengan peta kenangan, datanglah
uraikan rindumu yang tak pernah surut
walau melampaui sunyi sekalipun
meskipun semuanya tak lagi berbau mawar
namun aromanya tetap melekat dalam ingatan
sebisa mungkin pada garis pertemuan
tinggalkan jejak hujan pada humus tanah
biar dapat ku hirup jejak tubuhmu
yang betah berdiam dalam ingatan
Minggu, 08 September 2013
BERCERMIN DIRILAH
menyusuri
waktu,
mengukur
kedalaman makna
agar
dirimu dapat menyelami hakekat diri
jika
letih, berteduhlah menata keyakinan
diam
dan bercermin, lalu menganalisa kekeliruan
tualang
hanya menumpuk derita,
menyuburkan
sesat
layaknya
zaman yang telah sekarat
membutakan
peta menujuh hadirat MU
cobaan
hanyalah fase lahirnya iman
menujuh
kerahimanmu yang Agung
jadikan
doamu adalah harta
dalam
setiap tarikan nafas
selalu
mengingatkan bahwa hidup hanya titipan
demikianpun
waktu tak pernah sama
selalu
melahirkan kematian
tempat
Ilahi menetapkan sebuah titik
Kamis, 05 September 2013
AKU INGIN KAU JADI PELANGIKU
ingatkah dirimu, saat sua
debar dada ini terus menyiksaku
dengan gemuruh yang abstrak
meski samar
imaji ku melukismu dengan jelas
pahatkan sumringah senyummu dengan tegas
bahkan ku warnai dengan indah,
karena aku ingin hidupku berwarna bersamamu
naifkah aku,..
inginkan dirimu pelangiku selepas badai
menaungi hidupku dengan biasmu
hingga ajal menjemput kita pulang
Rabu, 04 September 2013
KORUPSI ITU PEMBUNUH MASA DEPAN BANGSA
Hal yang sangat sederhana adalah mengambil sesuatu yang bukan hak milik kita adalah mencuri, mencuri itu dosa, sudah berbuat dosa masih menambah lagi dosa dengan berbohong. Padahal negara kita adalah negara pancasila, kok dasar negaranya di kencingi sendiri oleh mereka yang mendapatkan mandat untuk mempertahankan dasar negara ini. Seharusnya kita malu pada negaranegara komunis, yang minim korupsi. Disisi yang lain kita selalu berkoarkoar tentang akhlak, moral dan agama, bahkan mudah tersinggung dan beringas karena masalah agama dan keimanan, tapi perbuatannya kok malah selalu berdasar pada sisi kelamnya.
Yang lebih mengharukan lagi para pelaku kejahatan ini selalu mendapat tempat secara istimewa dan hati para penegak keadilan. Seperti para koruptor telah menjadi warga negara kelas VIP, kasus-kasus mereka membuat banyak pihak sangat bersemangat untuk meringankan beban mereka dan keluarganya, tanpa memperdulikan kerugian masyarakat, rakyat, bangsa dan negara ini. Apalagi kebanyakan pengacara tidak merasa malu, bahkan berlomba-lomba membela mereka dengan berbagai dalih yang hebat dan terkesan manusiawi. Semakin besar korupsinya semakin gigih mereka membelahnya. Lebih parah lagi proses hukum oleh seorang pencopet lebih tegas dan keras diterapkan atas nama hukum dibandingkan dengan proses hukum terhadap para koruptor. Padahal mereka jelasjelas menunjukan itikad buruk, berbelitbelit, berusaha menghilangkan barang bukti, bahkan kabur dan meminta suaka tapi masih juga mendapatkan simpati, hati dan rasa cinta dari para penegak hukum.
Yang lebih menyedihkan lagi di negeriku setelah menjalani masa hukuman yang tidak pernah lebih dari setahun malahan mereka masih mendapatkan tempat dan kedudukan secara struktural yang lebih tinggi dari kedudukan sebelumnya. Dibandingkan dengan pencuri kelas teri yang mengambil seekor ayam tetangga lalu menjualnya, karena tidak punya duit padahal anaknya hampir mati karena tidak bisa membeli obat. Bayangkan kalau kita konversikan ke harga ayam dari hasil korupsinya, sudah berapa jutaan ekor ayam yang mereka rampok. Padahal hukumannya sama Cuma setahun, tapi mereka lebih mendapatkan tempat yang diprioritaskan dengan segala fasilitas yang diinginkan. Disinilah kita telah menciptakan kesenjangan sosial yang sangat jauh. Biasnya bisa ke segala sektor.
Sudah selayaknya berdiri dengan gagah berdiri sebagai saksi atau sumber informasi untuk memberantas kejahatan korupsi dan secara ksatria mengakui, meminta maaf, bahkan membuka akses dan informasi kepada penyidik atas kebobrokannya, maka sseorang koruptor bisa menjadi asset negara untuk menyelamatkan triliun uang negara dari para parasit bertitel. Sebab siapapun manusia pasti suatu saat bisa khilaf, tapi yang membedakannya adalah kebesaran jiwa seseorang dalam tindakan nyata dalam menebus kesalahannya sebagai tebusan akan kesalahannya. Bukan sebaliknya kongkalikong dengan pelacur penegak keadilan untuk menghilangkan barang bukti dan lari bersembunyi dari tanggungjawabnya. Sebab sadar atau tidak perbuatan kita telah membunuh harapan dan nasib hidup banyak orang.
Selasa, 03 September 2013
DIAM MU
sebegitu parahkah luka hatimu
hingga kau begitu akrab dengan kesendirian
sebahagia apa
sepimu hingga begitu kau nikmati
tak pernahkah kau lihat tulusku setia
menemanimu
harapku, lupakan yang telah pergi
bangunlah cerita juga impian baru
selalu ku kirim emailemail rindu setiap saat
dengan harap kau bisa membacanya
dan sadari diammu telah menyiksaku
ataukah dirimu sengaja menghilang dari
jangkauan
agar rindu ini kian bergemuruh
tidakkah kau tahu bahwa dirimu sangat jahat
Langganan:
Postingan (Atom)




