Sabtu, 17 November 2012

GURAU SENJA MU TENTANG HIDUP




senja yang teduh, seduhan hangat kopi
sesungging senyum, sebuah kerling mesra
dan aroma rambutmu seusai keramas
adalah rindu yang menghangatkan malam
yang selalu kita rahasiakan
dimana kau menari
mirip gadis desa di perhelatan kampung
lalu kita susuri malam bersama diranjang
dengan kerinduankerinduan yang nakal

jingga indah yang merambat pergi
dalam tautan lengan malam
wajah tirusmu sumringah, jauhkan gelisah hidup
saat secangkir kopi kau suguhkan
dengan singkong rebus pada saat kantong tiris
di sela tawamu yang menembus badai kehidupan
“pa jangan gelisah dengan harga barang yang naik
tapi resahlah jika harga diri kita melorot”

kelakar renyahmu semaikan imajiku
melelehkan helaihelai makna
melupa mataair kearifan dan hakikat rasa
ku sadar kini kita hanya bagian dari tanah gersang
yang menjadi lahan empuk kaum politisi

UNTUK MU WAKIL RAKYAT



pernakah kamu pikirkan itu

dengan hati yang tulus kami memilihmu
dengan tubuh yang goyah dan perut lapar kita menopangmu
meski kamu diamdiam mengafani kami dengan hidup yang tandus
setelah kemarin menyuling keringat, airmata dan darah ini menjadi anggur
dalam pertemuan rahasiamu dengan pelacur yang bernama eksekutif
itupun kami hanya bisa memandang bintang tetap duduk di kepalamu

berlidah anjing kamu selalu menyalak atas nama konstituen
agar pembangunan berjalan di tempatmu
dan kamupun berubah menjadi benalu didalamnya
dengan menumpang pada hara penderitaan kami

pernahkah ada niat menabur benih diladang kami
atau sekedar bertamu dan mendengar keluh kami
demi dapur yang tak pernah ngepul berharihari
“tidak” kamu hanya datang dengan keranjang kenangan
saat bintangmu mulai redup
lalu menawari angan dari usus busukmu
“ inikah suara yang kita satukan?” dengan ikhlas

telah ku jelajahi ruang nuranimu hingga kamipun berpikir
harus menyiapkan tempat sampah khusus untuk mu
yang tak akan pernah bisa lagi didaur ulang
untuk membuang semua kebusukan yang ada di kepalamu
agar kamu bersih dan jangan sesat

SAMASAMA AKAN MENERIMA LUKA



masihkah ada harap untuk bertemu
sebab cinta kita telah kalah dalam mengurai takdir
walau keinginan bertemu selalu semi setiap saat
saat malammalam kita berbagi rindu lewat percakapan
hingga tepian pagi yang dermaga,
masih saja penantian yang selalu kita tambatkan

kita tak lagi bisa menjelaskan tentang ranggas rindu
bisanya hanya mengigau tentang semi
usai menafsir potongan rindu pada kedip monitor
dimana hati kita telah merekam semuanya,
segalah yang meriak dalam kalbu
juga badai yang menggenang dalam binar matamu,

dengan sebuah permohonan “jangan pernah pergi”
sebab kita tetap akan terus bersua sepi
sebab kita telah akrab dengan empedu
sehingga tidak akan pernah merasakan rasa lain yang hadir
dalam cerita yang tak pernah mengenal kata pisah
biarkan cinta ini karam jauh dalam lubuk hati kita

photograpy by Sonny Saban

EMAIL RINDU



saat malam
ku pungut ceceran rindu hingga tepian fajar
yang selalu memberi warna,
ketika rindu mematung pada kedip monitor
sesekali menebar senyum saat emailmu ku baca
dengan harap kamupun tersenyum
adakalanya mata melawan lelah
membiarkan rasa menular memenuhi dada
meski sederhana, tapi kita bisa saling membaca rasa
hingga waktu benarbenar  mempertemukan kita

TENTANG MU



segala tentang mu
selalu tersimpan rapi
disaat yang paling riangpun,
ku ukir rindu buatmu meski kelak dirimu pergi
walaupun waktu dan cuaca melunturkan warna
tapi perasaanku tak akan pernah luntur
itu yang ingin ku katakan saat sua
mengapa?, sebab kamu pernah hadir
menghapus airmata juga mengeringkan genangan lukaku

tahukah dirimu
perasaan itu  telah beranak pianak memenuhi ruang hatiku