Senin, 29 September 2014

KOPI PAGI KU



pagi yang indah dalam secangkir kopi
wajah tirusmu yang sumringah
jauhkan gelisah dari ruang bathinku
saat kental pekat kopi yang kau suguhkan
dengan potongan singkong rebus pada saat kantong lagi tiris
di sela tawamu yang menembus gerimis kehidupan
“pa jangan resah dengan para pecundang politik
yang menjual harga dirinya atas nama jelata
tapi resahlah jika harga diri kita melorot pada titik nadir”

kelakar renyahmu semaikan imajiku jelang siang ini
lelehkan helaihelai makna
melupa mata air kearifan dan hakikat rasa
ku sadar kini kita hanya bagian dari tanah gersang
yang menjadi lahan empuk kaum politisi

Tidak ada komentar: