Minggu, 17 April 2011

JIWAKU LELAH


Jiwaku lelah
malam ini, pias wajah bulan
diselubungi pekat tebal awan penghantar  bandang
guratan_guratan duka itu terbias pekat
mengaliri lekuk liku sungai bathin
menghanyutkan rasa yang menghempas dada

ingin ku rebah sejenak
rasakan hening dengan hikmat, teduhkan amarah
jiwa ini telah bergerak melebihi getaran nafas
ketika hidup ini tak sepenuhnya harus jujur
dalam mengisahkan setiap nadi jejaknya
disepanjang lintasan sang takdir

Kamis, 14 April 2011

KEMARAHAN


lihatlah,…….
banyak orang karib dengan zat penenang
bersahabat dengan bunuh diri,
sekedar melepas resah ketika kesulitan tak teratasi
jiwa_jiwa kosong terpajang seperti enggan hidup
kesedihan dan penderitaan mengental
mengusik hidup yang tak terkais

lihatlah,……..
begitu banyak terror menguliti cinta dan damai
ketika mereka tahu ketentraman sulit didapat
bahkan yang paling hakikipun dipertaruhkan
atas nama pembenaran diri yang terus mengila
meski kebenaran ilahi adalah misteri
tapi kita selalu saja bicara
tentang keramahan dengan kemarahan

jika ,…………
semua tempat tak lagi bersahabat,
maka kalbulah ruang paling tenteram.
sebab di sana, hanya jiwa dan kesendirian
yang ikhlas menampung segala ratap...!


TENTANG RASA SAAT CINTA DIUJI KELAYAKANNYA


I
aku masih saja tak memahami
jawaban dalam hujan tanya di hati ku
kini waktu sendirilah yang mengajariku
menelan sejemput keinginan
tentang perjumpaan yang melahirkan perpisahan
dalam memintal jalinan rapuh
tanpa sedikitpun keraguan
yang menjeratku dalam kegelisahan hati
 II
disini aku mengenangmu
saat kopi senja tersaji di beranda
debar gelisah melumatku dalam jerat rindu
ketika senja membuka gerbang malam
senyummu masih terendap dalam lamunan
saat kau lukis rasa pada lembaran purba
memang hidup tak hanya mengenal cinta
tapi luka,rindu juga asa hadirkan banyak pelangi
ketika resah tertiup bayu yang terikat keyakinan
 III
aku  tak akan pernah mendendam pergimu
meski hatiku saat ini kering dan nyaris patah
hingga sunyi menanggalkan resah
aku hanya mampu menelan getirnya kenyataan
dengan menerima perihnya perpisahan 
saat cinta diuji kelayakannya

MENITIH KEHILANGAN


dahulu erat terjalin dalam hangat gengaman
saat kita menyulam rasa diakhir musim semi yang buram
aku mencintaimu karena hatimu berbisik dalam jiwaku
hangatkan kesepian yang beku
ketika itu aku didera hibernasi tentang cinta
tapi kau selalu membangun mimpi
di setiap kisah yang menghidupkan harihariku
lalu pisah memberi sinyal
hingga kita berjudi pada rasa
ketika gelisah kembali menetas
dalam jarak yang membelenggu
tak kupungkiri kita telah bermain hati
dalam getar ratapan yang tak lagi bocah
jujur ku bendung retas airmata
agar tak mengalir lagi ke muara yang sama
saat ini kitapun menanam benih kehilangan

PENANTIAN YANG TAK PERNAH KU PAHAMI


penantian ini tak pernah kupahami
disaat cinta telah tertaut
hingga rasa kian hangat dalam bara kerinduan
pun waktu telah mematangkannya dalam tungku asmara
menertawakan helai kalender yang gugur
mengutuk tautan hati kita dalam pertemuan rasa
namun saat ini waktu jualah yang merampas hati
jadikan aku lelah mencari jejakmu
ada getir luka
tergurat di kening pagi yang pucat
mungkin hanya rahmat yang menautkan risalah hati
tentang berpulangnya kisah yang terberai
sementara setiaku tetap gelisah menunggu
rindu bantulah aku
nyalakan lentera yang tergantung di dinding hati
biar ruang ini terasa terang
biar aku bisa mencatat keyakinanku
agar kelak dia dapat membacanya
(penantian yang tak kupahami)