Minggu, 05 Agustus 2012

DALAM PELUKAN LENGAN MALAIKAT


menunggu dengan menghabiskan waktu
sementara kesempatan kedua itu selalu ada alasan
meski kenangan merembesi pembuluh darahku
biarkanlah aku sendiri menemukan malam yang damai
biarkan aku pergi dari kesumpekan hidup ini,
dari kelelahan dan keruntuhan jiwa ini
mungkin aku dapat menemukan kebahagiaan
dalam pelukan malaikat

sebab rutinitas yang monoton
penipuan, pencurian dan saling membunuh
terus berputar membangun kebohongankebohongan
bagaikan badai yang terus memutar dalam kegilaan
tak ada tempat untuk melarikan diri
sebab kita lebih percaya pada kegilaan yang manis
sehingga kita selalu terpuruk pada kesedihan

Sarah mc Lachlan "angel"

MENUNGGU KERETA


cintaku!!, hujan belum reda
mari kita tunggu kereta biru yang melintasi negeri rasa
jangan takut!!, dengan kedinginan
lihatlah kuyupnya ranting dan daun
tak pernah mengeluh malah riang tertawa
karena kemarau telah memuai, jadikannya semi
cintaku!! jangan gelisah
lihatlah lekuk rel tak pernah bersatu selamanya
tapi selalu memuara mengantar rindu hingga stasiun

mendekatlah dalam pelukku
biar ku bisikan kisahnya, sambil menunggu kereta biru

kita adalah penumpang kasmaran
selalu menggigil dalam perjalanan waktu
hingga cinta memuara menujuh stasiun

VIDIO CHATING


ku jumpai di sela kedip monitor senyummu
masih riang mengamit ruang hatiku
itu dirimu, sematkan jejak rindu
sesekali dalam tarikan nafas rindu
tawarkan erat binar bersahaja yang bias diam dalam hatimu

dimana setiap saat adalah siluet rindu yang terbelah
selalu merengut rasa yang ingin bertaut
biar jauh dari perpisahan yang diamdiam menyelinap
menyembunyikan cinta abadi yang bersahaja

PEREMPUAN KEMARAU


I.
pada helai kalender yang selalu gugur
kita selalu melingkari hari dalam rindu
lalu mengkalkulasi tahun dalam usia
tapi jejak waktu selalu risau di jagal rindu

perempuan ku
di bawah kaki senja yang sungsang
ku selalu menorehkan pusi
yang paling puisi pada sabana gersang
memohon aroma hujanmu agar datang bertandang
jadikan hatiku semi

II.

ku pintal waktu
sambil menenun percakapan rindu
layaknya requem
isyarat teduh dalam damai

berlaksa senja tersapu waktu
lewat sungging senyummu
di teluk bibirmu pesan terbenam
malam yang lindap sayu, kibaskan gelisah
didadaku, rindu berkarat tak henti bergerak

meski tahuntahun bersimpuh ringsut dipangkuanmu
tempat kuletakkan doadoa penantian
agar cinta tetap terjaga

ISYARAT CINTA


semungkinnya kamu bisa merasakan
pada sebuah garis pertemuan dadaku berlubang
menahan banyak benturan kenangan yang membiru
sementara rindu ini tak pernah berdamai dengan waktu
dan kita selalu menyulut bara di setiap percakapan
lalu kita tuai dan menamainya perpisahan

tak ku ragukan lagi ada gerimis tetas dalam sunyi
jejakpun tak terbaca, sebagai isyarat yang paling sacral
lalu aku bagai karang menanti ombak
selalu datang membunuhku sekali hentak
retak, hancur lalu bersenyawa
menjadi pasir di kedalaman lautmu

doaku moga ada yang bersemayam dalam kerang jiwamu
siapa tahu jadi mutiara,…. :P :P :P :P :P

UNTUK MU KEKASIH II


 I.
aku selalu mengingatmu
dengan cumbuan panjang masa lalu,
dimana hangat nafasmu masih tertinggal
lembut memagut waktu hingga berhenti
menyisakan kenangan yang kian membuncah

cinta telah lahir tanpa restu
bersenggama dengan dogma hingga terlalu naïf
menerjang norma, menelanjangi realita
tapi entah mengapa rindu ini kian masak
hingga aku kehilangan logika dengan segala prasangka
II.
aku hanya mau bilang,
aku berhenti berkata merinduimu
lalu belajar membencimu
hanya saja aku tak pernah tahu
dari mana harus memulainya
meskipun selalu ku eja setiap kehilangan

jujurku terungkap
ku takut menerima kenyataan pahit
dihantui kehilangan mu
aku menunggumu
dengan seluruh rasaku
sebab cintaku kian bunting
dengan setiaku yang gelisah

UNTUK MU KEKASIH


I.
aku mengingatmu
saat kita mengeja peta pada lekuk jalan sepanjang kota
jejak kita saling bertutur tentang jalan yang kotor, kecut dan miris
juga klaksonkalkson tua taxi penyebrangan bandung-jakarta

aku mengingatmu
saat kita saling mengutuk perpisahan
retas airmata, resah jarak juga gigil kerinduan
terasa rapat berbagi hangat dalam detak jantung
lalu kita kian sibuk menata asa, mengurai rindu

kini,….. kita kian dungu
hingga jenuh mulai menegur jiwa
saat segalanya mulai mengurai pisah
dimana nyali tak lagi setajam rindu
walau sekedar mengerti tentang memiliki

II.
pada kedip monitor ku tatap wajahmu
masih seperti dulu senyummu
meski ada yang meriak di rinai matamu

ku jadi  ingat,...
tak henti ku menatapmu di sebuah gerbang pasar kota
meraba rasa yang tertanam penuh kerinduan
kini,.. ku tinggalkan berlembar kenangan padamu
perempuan yang berhati ibu,

kau mulai menghitung jarak di depan
dengan selembar tiket, lalu kalkulasi musim
mengeja kesepian, menimbun rindu
dengan asa yang tertunda

KITA TAK LAGI RAMAH


jalanan melapang dengan deru aktifitas
walau banyak genangan dan lubang di sanasini
hanya waktu yang bisa menambal
dengan pajak yang nilainya aspal atas nama rakyat
lalu membuat penguasa kebal keadilan

seperti bahu jalan yang kepayahan
menahan aktifitas yang tak pernah surut
dengan segala perda yang prematur lahirnya
selalu besarkan kerutan kening, dalam ingatan huniannya
bertubitubi menghujam dalam sungut yang tak henti

huma tempat berpulang, selalu membentang perpisahan
serupa racun yang menghentikan detak nadimu dengan gelisah
tanpa hamburan tawa sebab terlanjur raga selalu letih
tak akan pernah paham makna jujur atau tipuan
yang tertuang hanya rayuan dengan segala kemungkinan

sebab kenyataan serupa angin, tak bisa di percaya
simpan saja yang rapi dan berikan pita hitam pada nisanmu

Sabtu, 04 Agustus 2012

KARENA KERAKUSAN SEGELINTIR ORANG MEREKA PUN ADA


Senja yang indah di saat remangremang malam mulai menguak takbir adzan, ku menemukanmu di depan warung kopi pinggiran jalan pusat kota. Sementara di televisi barusan ku lihat laju inflasi saat dana moneter mengeliat dalam tajuk berita layar kaca. Engkau berdiri terpaku entah menatap para pakar ekonomi yang tak pernah mengenal nasi aking, atau para pengamat yang tiada mengenal atap plafon bocor beralaskan karton, ataukah para pengelana yang rehatkan badan sambil menikmati beraneka sajian yang di sajikan di meja warung sesuai pesanannya.

Apakah ada yang salah dengan negeri ini, ataukah engkau  yang salah dilahirkan ke dunia ini. Perasaan ku tiada yang salah engkau dilahirkan ibumu, bahkan diapun tak pernah bermimpi sebelumnya bahwa adanya kau hadir disebuah negeri yang makmur ini hanya untuk menjadi pengamen dan pengemis di jalanan. Yang ku dengar  dari mimbar rumahrumah Tuhan bahwa; “Tuhan tidak akan merubah nasib umatnya bila umatnya itu sendiri yang tidak berusaha merubahnya”.  Namun sekarang bukan zaman Nabi Musa atau Zaman Ken Arok dimana bayi yang terbuang  akan menjadi raja. Sedangkan pemberi petuah dari atas mimbarmimbar rumah Tuhan, hidupnya nyaman berkendaraan mewah dengan istriistri yang cantikcantik.

Dalam sepanjang pengembaraan hidupku, tak pernah ku dengar seorang anak yang dilahirkan mempunyai citacita menjadi pengamen dan pengemis di jalanan. Hanya salah kelolah dan menatanya dengan arif dan adil maka manusia sepertimu menjadi ada. Benar kata Mahatma Gandhi “ kekayaan negeri ini akan cukup untuk memberi makan seluruh penduduknya tapi tidak akan cukup buat seorang yang rakus”. Dan aku pun berpikir mungkin Tuhan amat mencintai  dirimu, dan Tuhan mengasihani mereka, karena sebenarnya merekalah sesungguhnya pengemis di dunia maupun di akhirat nanti,….

Wasalam,..
selamat berbuka puasa.