Sabtu, 19 Februari 2011

SURABAYA, AKU DAN PELACUR DALAM KENANGAN


kota yang eksotik,
berani membuka diri,
dijantungnya sebuah kehidupan beku,
tatapannya bagai sangkur mengintai dalam riuh
kemudian mengendap menikam, dengan tikaman lapar
seperti predator, merengut mangsa dalam kabut
ketika kesepian yang akut melanda hati,

pelacur yang cantik
selalu menutup hati dan cinta
dijantungnya sebuah kehidupan melebur
tatapanyan liar mencuri riak bayang gelap hati
kemudian mengendap tunaikan janji kencan yang tak biru
kencan yang tak leluasa laksanakan perannya sebagai kekasih

saat perpisahan itu tersaji
aku telah mencuri kenangan tentangmu
kenangan yang bisa menjadi Tuhan atas  diriku
kenangan ketika kuminum anggur dari bibirmu
anggur yang mengallir deras dalam nadi
disudut kamar kesepian melapuk, dan aku hangus terbakar

masihkah kota dan pelacurnya menawarkan malam eksotiknya
saat semua orang menudingmu bakteri yang perlu dibasmi
tapi mungkin satu hal yang terlupakan
kamulah saksi fajar renaissans
ketika modernisasi mengangkangi tradisi
harga dari sebuah perubahan jaman

Tidak ada komentar: