Sabtu, 24 Maret 2012

KENANGAN KOPI PAGIMU



embun kembali mengetuk pintu pagi
bawakan harum secangkir kopi buatanmu
lalu memintaku turun dari ranjang
untuk memeluk setiap lekuk luka di hatimu
padahal aku masih setia pada sehelai selimut
dan hangatnya ranjang yang meneriakkan keterasingan
dari jendelaku aku menyaksikan bumi mulai kehilangan bahasa
kita selalu bicara tentang keramahan dengan kemarahan
semuanya tersimpan dalam rahim ilusi
kelak akan melahirkan sabda untuk membalut nganga luka
ada saatnya rasa tidak mesti di tulis
diam, bisu dan resapi maknanya meski diam bukan berarti kalah
melainkan mencari cinta dengan jalan lain
agar orang lain tidak lagi pernah merasa kalah
sebab cinta tak lagi indah jika lahir dari rahim amarah

Tidak ada komentar: